Deteksi lupus “si seribu wajah” tidak diagnosis mandiri

  • admin
  • Mei 19, 2024

DKI Jakarta – Guna mendeteksi dini penyakit lupus yang tersebut gejalanya berbagai menyerupai penyakit lain, sehingga dijuluki penyakit "si seribu wajah", tidak atau bukan cukup dengan diagnosis mandiri atau "self diagnosis".

Diagnosis mandiri kerap menghasilkan pemukim salah mengira gejala penyakit kronis itu sebagai radang sendi autoimun atau rheumatoid arthritis, sebab kemiripan gejala.

Padahal lupus atau biasa dikenal Systemic Lupus Erythematosus merupakan penyakit reumatik autoimun yang mana dapat menyerang bervariasi macam organ lalu mempunyai bervariasi macam gejala.  Sehingga apabila dibiarkan, bukanlah tidaklah kemungkinan besar berdampak kerusakan yang dimaksud lebih besar parah, bahkan menyebabkan kematian.

Ketika mengidap lupus fase awal, seseorang dapat terlihat seperti baik-baik saja, dikarenakan gejala yang dimaksud dirasakan amat minim.

Namun dengan mengecek lebih lanjut dalam, seseorang dapat mengonfirmasi ada atau tidaknya penyakit yang dimaksud ke pada tubuh pasien. Sehingga risiko untuk mengalami sakit yang mana lebih tinggi parah dapat dicegah sedini mungkin.

Kueri terkait lupus sendiri, menurut trafik Google Trends Negara Indonesia pada Senin, dipakai 80 persen peselancar dunia maya, kalah sejumlah dari rheumatoid arthritis (RA) yang mencapai 120 persen. Kueri adalah sekumpulan instruksi khusus untuk mengekstraksi data dari pangkalan data.

Mungkin lupus bisa jadi dikira RA, apabila instruksi yang dipakai untuk mencarinya salah. Nyeri sendi adalah salah satu gejala lupus. Simptom nyeri sendi akan terasa paling berat dirasakan pasien lupus di mana mereka itu baru bangun tidur.

Namun nyeri sendi tidak satu-satunya manifestasi atau gejala lupus. Tanda yang dimaksud paling kentara adalah gejala lapisan kulit , misalnya ruam atau memar dengan corak khas kupu-kupu di dalam pipi atau batang hidung.

Selain itu, ada juga gejala ginjal, misalnya tekanan darah tinggi, kaki membengkak juga buang air kecilnya keruh atau berbusa), kurang darah misalnya hemoglobin rendah/anemia atau trombosit rendah/ trombositopenia.

Kemudian gejala syaraf, misalnya pusing, sakit kepala, atau kejang, hipersensitif terhadap cahaya matahari hingga penumpukan cairan misalnya pada rongga selaput paru-paru atau pada perut.

Potensial terserang lupus terus ada pada perempuan yang mana mengalami gejala-gejala yang disebutkan serta memiliki riwayat genetik atau keturunan dari anggota keluarga yang mana pernah mengidap lupus.

Sehingga dokter menganjurkan anak perempuan untuk lebih tinggi mewaspadai lupus sejak dini dengan memeriksakan kesehatannya secara berkala ke dokter.

"Tentu kalau ada keluhan, berobat ke dokter umum dulu begitu ya. Nanti mereka yang dimaksud akan menentukan itu (pengobatannya) ke arah penyakit tertentu atau tidak, atau pasien dirujuk ke faskes berikutnya," kata dokter spesialis penyakit dalam-konsultan reumatologi Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr RM Suryo Anggoro KW, SpPD-KR.

Meski dokter akan sebisa kemungkinan besar melakukan kumpulan pemeriksaan tambahan untuk mengonfirmasi penyakitnya, dengan mengenali gejala-gejala dan juga komponen risiko tentu akan sangat membantu pasien mendapatkan penanganan yang digunakan cepat juga tepat apabila terdiagnosis lupus.

Penanganan lupus

Terapi perawatan lupus direalisasikan untuk mengendalikan peradangan, meringankan gejala, kemudian menghindari kehancuran organ.

Solusi yang dimaksud digunakan di perawatan lupus adalah medikasi yang digunakan menekan sistem imun supaya sistem imun tidak ada menyerang sel-sel sehat, jaringan, atau organ tubuhnya sendiri.

Konsumsi suplemen yang digunakan mempunyai klaim meningkatkan kekebalan tubuh sebaiknya dihindari.

Dengan bubuk-bubuk yang tersebut menekan sistem imun, efek sampingnya menyebabkan tubuh lebih lanjut mudah-mudahan terinfeksi penyakit.

Karena itu, penyembuhan terapi lupus biasanya direalisasikan berdasarkan pengamatan dokter terhadap keadaan pasien, untuk mendeteksi apakah aktivitas lupus sudah ada mencapai remisi.

Remisi atau satu titik dalam mana status gejala penyakit lupus terlihat minimal, belum tentu identik dengan berhenti berobat. Para dokter biasanya memiliki target sebisa mungkin saja pada bulan keenam pengobatan, remisi lupus dapat tercapai, khususnya pada penyintas lupus yang tersebut mengalami gejala ginjal.

Tapi perawatan diperlukan dipertahankan sampai jangka waktu tertentu di dalam mana remisi memungkinkan terjadi terus-menerus. Ketika remisi terus-menerus tercapai, baru dosis bubuk-bubuk sanggup diturunkan atau mungkin saja suatu pada waktu mampu dihentikan.

Dokter dapat memohon pasien menjalani tes anti-double-stranded DNA (anti-dsDNA) untuk mengetahui apakah penyakit sudah ada mencapai remisi pada individu yang dimaksud telah terjadi didiagnosis mengalami lupus.

 
"Untuk memantau aktivitas penyakit, selain dari keluhan, selain dari pemeriksaan laboratorium sederhana, anti-dsDNA inilah yang mana digunakan. Dan kalau penyakitnya terkendali, bisa jadi terlihat normal hasilnya," kata Suryo.

Tes antinuclear antibodies atau tes ANA, untuk mengetahui adanya hambatan pada sistem imun tubuh, tidaklah diperlukan diulang lagi ketika diagnosis telah tegak bahwa seseorang memang benar terserang lupus.

Diagnosis pada lupus dapat ditegakkan berdasarkan tiga temuan. Pertama, temuan berdasarkan pemeriksaan fisik yang spesifik. Kedua, temuan berdasarkan pemeriksaan laboratorium mudah seperti pemeriksaan untuk mengecek kadar hemoglobin kemudian trombosit di darah.

Ketiga, temuan berdasarkan pemeriksaan laboratorium spesifik seperti tes anti-dsDNA juga tes komplemen 3 kemudian 4 (C3 kemudian C4). "Dengan sistem scoring atau penilaian terhadap tiga temuan tersebut, kita juga mampu menentukan apakah lupusnya sudah ada mencapai remisi atau belum," kata Suryo.

Selain pengobatan, gaya hidup segar juga dapat membantu mengempiskan timbulnya gejala lupus pada individu yang digunakan berisiko mengalami penyakit tersebut.

Gaya hidup baik dapat dilaksanakan dengan mengatur waktu istirahat agar tidaklah sampai kurang dari tujuh jam sehari, kemudian berhenti merokok, juga menjalankan stres, setelah itu diet khusus bubungan ginjal dengan menurunkan konsumsi protein atau garam yang mana berlebihan, atau berolah raga ringan seperti berjalan kaki 6.000 langkah sehari.

Selain dapat membantu mengempiskan risiko terjadinya lupus, penerapan gaya hidup segar juga dapat membantu mempertahankan kebugaran tubuh.

Berikutnya,  mengelak unsur yang dapat mengakibatkan gejala lupus seperti sinar matahari berlebihan, infeksi, serta obat tertentu juga dapat membantu menghurangi risiko serangan lupus.

Jadi, bukan ada tes tunggal yang digunakan dapat mengetahui apakah seseorang menderita lupus. Para dokter biasanya dapat mengetahui  seseorang menderita lupus dengan berubah-ubah cara,  seperti tes penghitungan sel darah lengkap (complete blood count), analisis urine, pemeriksaan ANA (antinuclear antibody), pemeriksaan imunologi, tes komplemen, dan juga pemindaian jantung (ekokardiogram)  dan juga paru-paru (foto rontgen).
 

Artikel ini disadur dari Deteksi lupus “si seribu wajah” bukan diagnosis mandiri

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *