Bos Pertamina Buka-bukaan Jurus Baru Hadapi Trilema Energi

  • admin
  • Mei 25, 2024

Jakarta – Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati menegaskan pentingnya strategi di menghadapi trilema energi. Terutama, pada sedang tren transisi menuju energi bersih kemudian ketidakpastian global ketika ini.

Menurut Nicke, sekalipun pada waktu ini Nusantara menempati rangking 53 planet terkait ketahanan energi, namun secara keseluruhan, Negara Indonesia masih sangat jauh tertinggal dari rata-rata dunia.

Oleh sebab itu, ia menyokong agar ketahanan energi dalam di negeri terus diperkuat. Terlebih, pemerintah mempunyai target pertumbuhan perekonomian hingga 7% per tahun.

“Apalagi mengingat target pemerintah untuk terus mempertahankan juga meningkatkan laju perkembangan kegiatan ekonomi sebesar 7% hingga tahun 2045 kemudian meningkatkan Ekonomi Nasional per kapita melebihi US$ 30.000,” kata Nicke di acara The 48th IPA Convention & Exhibition (IPA Convex 2024), di dalam ICE BSD City, Tangerang Selatan, Selasa (14/5/2024).

Nicke menganggap bahwa energi merupakan katalis bagi peningkatan ekonomi. Sehingga, upaya untuk mengamankan pasokan energi dalam di negeri berubah menjadi hal yang digunakan cukup penting.

“Jadi kita wajib mengamankan seluruh energi lalu pada pada waktu yang digunakan sejenis kita juga menurunkan karbon untuk memperkuat target pemerintah pada tahun 2060,” kata dia.

Adapun cara perusahaan untuk meningkatkan kekuatan industri yang mana ada pada waktu ini yaitu dengan memaksimalkan pertumbuhan ke sisi hulu kemudian juga pengolahan minyak (kilang), dan juga mengintegrasikan kilang minyak dengan usaha petrokimia.

“Dan kita juga memulai pembangunan infrastruktur yang tersebut terintegrasi, hulu lalu hilir, di rangka menguatkan akses kita terhadap energi,” ucapnya.

Sementara itu, lanjutnya, hal yang dimaksud bermetamorfosis menjadi tantangan besar bagi Tanah Air yaitu pada hal keterjangkauan (affordability) atau daya beli masyarakat.

Untuk itu, perseroan juga berupaya untuk mengalokasikan 60% anggaran penanaman modal untuk kegiatan aktivitas hulu minyak juga gas bumi. Diharapkan, ini sanggup menurunkan impor minyak RI.

“Target kami pada tahun 2029 adalah swasembada minyak mentah. Saat ini sepertiga pasokan konsumsi minyak mentah kita berasal dari impor. Jadi kita akan menambah alokasi kita, kita akan menambah aktivitas hulu kita untuk meningkatkan produksi kita,” ungkap Nicke.

Pihaknya juga akan berupaya untuk meningkatkan kapasitas pengolahan minyak untuk mengempiskan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) RI. Begitu juga dengan LPG.

“Sekarang kita masih impor sekitar 85% LPG kemudian kami akan gantikan LPG dengan jaringan gas (jargas),” ujarnya.

“Jadi di strategi bidang usaha kami juga anggarkan 17% untuk memulai pembangunan kegiatan bisnis gas terintegrasi dari hulu, midstream, serta hilir. Kami percaya gas akan bermetamorfosis menjadi jembatan untuk transisi dari energi fosil ke energi baru terbarukan,” tuturnya.

Sementara dari sisi keberlanjutan (sustainability), pihaknya juga akan mengembangkan substansi bakar ramah lingkungan, seperti biodiesel, bioethanol, hingga bioavtur. Selain itu, perusahaan juga melakukan perdagangan karbon hingga menjalankan proyek penangkapan serta penyimpanan karbon (Carbon Capture and Storage/CCS).

Dia sempat menyebut, Pertamina terus menggerakkan kolaborasi nasional serta global untuk menghadapi tantangan trilema energi.

Sebagai BUMN Energi, Pertamina fokus menjawab tiga isu strategis, yakni Energy Security (ketahanan energi), Energy Affordability (keterjangkauan biaya energi), lalu Environmental Sustainability (keberlanjutan lingkungan).

Nicke menyampaikan bahwa kondisi pandemi pandemi Covid-19 dan juga konflik geopolitik Rusia-Ukraina sudah pernah mengakibatkan dampak signifikan terhadap ketersediaan energi di negara-negara dunia. Namun,hal yang disebutkan bukan menyebabkan dampak signifikan bagi Indonesia.

“Kita mampu mengamati tidak ada ada dampak yang dimaksud signifikan terhadap supply energy. Kita semua masih nyaman, mampu mengakses energi dengan nilai tukar yang digunakan affordable, dengan bermacam kebijakan yang dimaksud ada,” imbuh Nicke.

Untuk aspek energy equity, Nicke mengkaji sektor energi harus mampu menggerakkan peningkatan Barang Domestik Bruto (PDB) dengan memberikan aksesibilitas energi yang digunakan adil lalu merata. Bidang energi juga diharapkan dapat memacu industrialisasi juga mengakomodasi tenaga kerja yang dimaksud dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto lalu daya beli.

Sementara itu, pada aspek environmental sustainability, pada waktu ini Tanah Air mempunyai skor 63,1, sedangkan skor bumi yakni 66.

Artikel Selanjutnya Bye Minyak.. Masa Depan Tenaga Bersih RI Ini adalah Diramal Cerah!

Artikel ini disadur dari Bos Pertamina Buka-bukaan Jurus Baru Hadapi Trilema Energi

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *